Jakarta (ANTARA News) – Ketua Dewan Penasihat Mathlaul Anwar Jenderal TNI (Purn) Wiranto mengapresiasi kemajuan yang dicapai Ormas Mathlaul Anwar, khususnya di bidang pendidikan, namun menyayangkan belum berkibarnya nama Ormas Islam tersebut secara nasional.

“Alhamdulillah sudah banyak kemajuan yang dicapai Mathlaul Anwar di bidang pendidikan, khususnya selama dua tahun terakhir ini, namun Ormas ini belum dikenal secara luas karena belum banyak kadernya yang berkiprah pada level nasional,” kata Wiranto ketika menerima audiensi jajaran Pengurus Besar (PB) Mathlaul Anwar di Jakarta, kemarin.

Pengurus Mathlaul Anwar yang hadir pada audiensi tersebut adalah Ketua Umum KH Ahmad Sadeli Karim, Sekjen Oke Setiadi, dan Ketua Badan Litbang Aat Surya Safaat. Audiensi tersebut dilakukan dalam rangka melaporkan hasil-hasil Rakernas Mathlaul Anwar yang dilaksanakan di Bandar Lampung pada 29 hingga 31 Agustus 2014.

Menurut Wiranto, ke depan para kader dan tokoh Mathlaul Anwar yang menduduki posisi penting, khususnya yang berada di jajaran legislatif (DPD dan DPR) harus lebih proaktif dalam menyikapi isu-isu nasional, khusunya yang terkait dengan bidang pendidikan, dakwah, dan sosial.

Selain itu, para pelajar dan mahasiswa yang berada di lingkungan lembaga-lembaga pendidikan yang dikelola Mathlaul Anwar harus makin dipacu supaya memiliki prestasi akademis yang dapat dibanggakan, terlebih akselerasi (percepatan) kemajuan di bidang pendidikan tetap harus menjadi tujuan utama organisasi.

“Strategi lain yang tidak kalah pentingnya adalah pendekatan yang baik dengan media massa, karena pers dapat menyebarluaskan informasi apapun, termasuk tentang kiprah Mathla’ul Anwar di bidang pendidikan, dakwah, dan sosial secara luas dan cepat,” kata Wiranto.

Sementara itu Ketua Umum PB Mathlaul Anwar KH Ahmad Sadeli Karim menyambut baik pendapat, gagasan, dan saran yang dikemukakan Jenderal TNI (Purn) Wiranto selaku Ketua Dewan Penasehat Mathlaul Anwar. Ia berharap Ormas yang dipimpinnya ke depan dapat dikenal secara luas seperti halnya Ormas Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU).

Menurut catatan, Mathla’ul Anwar didirikan 10 Ramadhan 1334 Hijriah atau 10 Juli 1916 oleh KH E Mohammad Yasin, KH Tb Mohammad Sholeh, dan KH Mas Abdurrahman serta dibantu oleh sejumlah ulama di daerah Menes, Kabupaten Pandeglang, Banten. Sebagian di antara pendiri sebelumnya telah mendapatkan pendidikan di Timur Tengah.

Ormas tersebut didirikan berselang empat tahun setelah berdirinya Muhammadiyah serta sepuluh tahun lebih awal dibanding NU. Muhammadiyah dirikan pada 18 Nopember 1912 di Kauman Yogyakarta oleh KH Ahmad Dahlan dan NU pada 31 Januari 1926 di Surabaya Jawa Timur oleh KH Hasyim Asyari.

Mahtlauul Anwar itu sendiri memiliki arti sebagai tempat terbitnya cahaya, dimaksudkan sebagai upaya pembebasan umat dari kebodohan dan keterbelakangan melalui pengembangan bidang pendidikan, dakwah, dan sosial sebagai usaha dan perjuangan organisasi.

Mathlaul Anwar yang kini memiliki perwakilan di 24 provinsi itu selama ini mengelola ratusan lembaga pendidikan dari tingkat dasar, menengah, hingga perguruan tinggi. Adapun perguruan tinggi yang dikelolanya adalah Universitas Mathlaul Anwar (UNMA) di daerah Cikaliung Pandeglang, dan Magister Hukum UNMA di Serang, Banten.

Mengenai kerjasama luar negeri, Mathlaul Anwar juga tengah mengembangkan kerjasama di bidang pendidikan yang intensif dengan lembaga pendidikan di beberapa negara, yakni Singapura, Malaysia, dan Turki melalui pengembangan Mathla’ul Anwar Global School (MAGS).
(A015/Z002)